Banggai – Hingga Jumat (2/3), Situasi Kota Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah masih mencekam. Warga menaikan bendera merah putih setengah tiang sebagai tanda berduka atas meninggalnya empat warga akibat bentrok dengan Polisi, Kamis (1/3) kemarin. Sementara 13 orang lainnya saat ini masih di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Banggai dan Luwuk.
Kamis kemarin tiga korban tewas akibat ditembak Polisi, yakni Junais (33), Ardan Bambang (58) dan Ridwan Saidi (27) sudah dimakamkan di pemakaman umum setempat. Sementara korban Ilham (25) akan dimakamkan hari ini.
Kepala Kepolisian Resor Banggai Kepulauan AKBP M Nazli menyampaikan permohonan maaf atas jatuhnya korban jiwa dalam bentrokan itu. Ia berjanji akan menindak anggota Polisi yang melakukan penembakan hingga menewaskan sejumlah warga tersebut.
Wakil Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah Komisaris Besar I Nyoman Sindra ang sejak kemarin petang berada di Banggai menyatakan bahwa situasi keamanan di Banggai berangsur membaik meski kantor-kantor pemerintahan masih disegel warga.
Ia juga menyampaikan bahwa sesuai data yang ada korban tewas berjumlah empat orang, lalu yang luka-luka sejumlah 23 orang. Rinciannya sebanak 11 orang adalah anggota Polisi dan 12 lainna warga sipil.
“Kami sudah melakukan pertemuan dengan tokoh-tokoh masyarakat dan semua pihak sudah bersepakat untuk bisa menjaga keamanan di Banggai,” ujar Sindra.
Sementara itu, Ketua Forum Mondulian Banggai Bersatu (FMBB) Ahmad Buluan menyayangkan sikap Bupati Irianto Malinggong yang sampai kini belum juga mengeluarkan pernyataan resminya atas kemelut di Banggai.
“Sampai detik ini, batang hidungnya tidak kelihatan di Banggai, bagaimana kami bisa memercayai kepemimpinanna,” kata Ahmad.
Ahmad mengancam akan terus melakukan penyegelan kantor-kantor pemerintahan sampai Bupati dan jajarannya kembali berkantor di Banggai.
Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliudju direncanakan akan segera melaporkan kemelut politik di Banggai itu kepada Menteri Dalam Negeri M Ma’ruf. Bahkan jika memungkinkan akan ada pemekaran wilayah untuk meredam konflik.
“Untuk sementara ini, Gubernur sudah menginstruksikan agar Bupati dan jajarannya bisa kembali berkantor di Banggai untuk menghindari konflik terbuka,” jelas Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Pemerintah Provinsi Sulteng Jethan Towaki.***
Tuesday, March 6, 2007
Banggai Masih Mencekam, Warga Kibarkan Bendera Setengah Tiang
Posted by
Jejak Kehidupan
at
1:17 AM
0
comments
Monday, March 5, 2007
Banggai Rusuh, Empat Tewas dan 26 Luka-luka

Bangkep – Suasana Kota Banggai, Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah masih mencekam menyusul tewas tertembaknya empat orang warga saat terjadi bentrok dengan Polisi di depan Kantor Kepolisian Sektor setempat, Rabu (28/2) kemarin. Bentrok tersebut bermula dari upaya paksa Polisi membuka Kantor Bupati Bangkep setelah sepekan lebih disegel warga. Mereka kemudian melakukan penyerangan ke Polsek setempat bersenjatakan parang, tombak, bambu runcing, batu dan bom Molotov. Selain mengakibatkan korban jiwa, bentrok tersebut mengakibatkan satu asrama polisi terbakar.
Warga yang tewas diketahui bernama Junais (33), Admar Bambang (58), Ridwan Saidia (27), Ilham (25). Saat ini sekitar 26 korban luka-luka sebagian besar di rawat di Rumah Sakit Umum Daerah Banggai Kepulauan.
Direncanakan, empat orang warga yang tewas dalam bentrokan itu, Kamis (29/2) ini akan segera dimakamkan keluarganya.
Ahmad Buluan dari Forum Mondupolian Banggai Bersatu (FMBB) menyatakan bahwa Polisi sudah bertindak gegabah. Massa melakukan perlawanan karena terpancing dengan ulah polisi yang membuang tembakan peringatan.
“Polisi melakukan tindakan inprosedural. Mereka tidak pentungan pentungan ketika memukul, tapi balok kayu. Kenapa mereka tidak pakai pentungan rotan, tidak memakai tameng dan gas air mata. Kemudian rata-rata yang tewas itu ditembak di kepala, itu sama dengan pembunuhan,” kata Ahmad.
Ahmad juga meminta agar bantuan 75 personil keamanan dari Kesatuan Brimob Polda Sulteng dapat bekerja efektif dan sesuai prosedur.
Wakil Kepala Kepolisian Resor Banggai Komisaris Polisi M Ikbal menyatakan bahwa seorang warga luka akibat dipukuli dan tiga lainnya terkena tembakan.
Menurut Ikbal, massa melakukan aksi anarkis dengan menyerang Polisi, lalu aparat melepaskan tembakan peringatan yang dibalas warga dengan lemparan batu dan bom Molotov.
“Saat ini, situasi berhasil kami kendalikan. Polisi sudah melakukan penjagaan ketat di sejumlah titik rawan. Kami juga sudah menggalang sejumlah tokoh-tokoh pemuda dan masyarakat setempat untuk meredam situasi ini,” kata Ikbal.
Bentrok tersebut bertepatan dengan dialog soal pemindahan ibukota Kabupaten Banggai dari Kota Banggai ke Salakan yang dimediasi Kapolres Banggai AKBP M Nazli. Dialog tersebut mempertemukan sejumlah tokoh adat untuk menyatukan pendapat tentang pelaksanaan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 1999 tentang pemekaran Kabupaten Banggai. Namun di saat dialog masih berlangsung, bentrok tersebut terjadi.
Bupati Banggai Kepulauan Drs Irianto Malinggong MM menyesalkan kejadian itu. Ia berharap masyarakat bisa taat pada hukum yang berlaku.
“Saya meminta kepada Kapolda Sulteng Brigjen Badrodin Haiti untuk turun tangan mengawal realisasi UU Nomor 51 Tahun 1999 itu,” tandasnya.***
Posted by
Jejak Kehidupan
at
9:19 PM
0
comments
Duka Cita
Kami sampaikan duka cita yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam polemik Politik pemindahan Ibukota Banggai Kepuluauan, Sulawesi Tengah dari Banggai ke Salakan. Semoga arwah mereka diterima di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Baca Selengkapnya..
Posted by
Jejak Kehidupan
at
9:17 PM
0
comments
Banggai Kepulauan Rusuh, Satu Warga Tewas dan 10 Tertembak Polisi
Banggai Kepulauan, Indonesia – Satu warga tewas dipukuli polisi dan 10 warga lainnya dalam kondisi kritis terkena tembakan polisi. Menyusul bentrok antara polisi dengan warga dalam aksi penolakan pemindahan ibukota Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah dari Kota Banggai ke Salakan, Rabu (28/2).
Insiden tersebut bermula Rabu (28/2) pagi sekitar pukul 07.00 WITA. Saat itu ribuan warga tengah melakukan aksi di depan Kepolisian Sektor Banggai. Mereka memprotes pemindahan ibu kota tersebut. Suasana saat itu sudah mulai memanas karena ribuan warga yang melakukan aksi demo itu membawa senjata tajam berupa parang, tombak dan bambu runcing. Sebelumnya sejak Selasa (21/2) pekan lalu warga menyegel Kantor Bupati, Kantor DPRD dan sejumlah kantor pemerintahan lainnya.
Entah bagaimana saat Waka Polres Banggai Kompol Mohammad Iqbal tengah melakukan negosiasi dengan warga untuk membuka blokade yang dipasang di kantor-kantor pemerintahan, tiba-tiba terdengar rentetan tembakan yang dilakukan oleh polisi.
Ribuan massa yang tadinya menggelar aksi itu langsung kocar-kacir, dan sebagian warga melakukan perlawanan terhadap polisi. Yang mengakibatkan salah seorang warga bernama Junais tewas dianiaya polisi. Sementara satu warga lainnya bernama Iwan hingga kini kondisinya kritis tertembak oleh polisi.
Saat ini situasi makin tidak terkendali, masyarakat melakukan perlawan kepada polisi. Mereka melempari polisi dengan batu dan bom Molotov. Perlawanan warga makin memuncak saat ambulance yang membawa jenazah korban Junais kaca belakangnya pecah ditembak polisi.
“Kami lari bersembunyi daripada menjadi sasaran amuk warga,” aku Fadli, warga setempat.
Kapolres Banggai AKBP M Nazli menyayangkan warga yang berbuat anarksis. Mereka melempari Polisi dengan menggunakan bom Molotov dan senjata tajam.
Sebelumnya, kabupaten ini merupakan kesatuan wilayah dengan Kabupaten Banggai. Undang- Undang Nomor 51 Tahun 1999 menetapkan pulau-pulau di tengah lautan tersebut menjadi daerah otonom. Kabupaten induk tetap disebut Kabupaten Banggai dan pemekarannya disebut Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep). Lima tahun pertama ibukota Kabupaten berada di Kota Banggai kemudian dipindahkan ke Salakan, hal inilah yang memicu konflik tersebut.
Luas wilayahnya ± 22.042,56 km2 dengan rincian: daratan 3.160,46 km2 dan wilayah laut 18.828,10 km2 . Kabupaten Banggai Kepulauan adalah merupakan satu-satunya Kabupaten di Sulawesi Tengah yang merupakan “Kabupaten Maritim” yaitu terdiri dari 123 Pulau, dengan rincian 5 pulau sedang dan terdiri dari yakni Pulau Peleng (luas 2.340 km2), Pulau Banggai (268 km2)), Pulau Bangkurung (145 km2), Pulau Salue Besar (84 km2), Pulau Labobo (80 km2) dan 118 pulau-pulau kecil.
Sesuai sensus penduduk tahun 2000, penduduk yang sehari-hari menggeluti perikanan 8.299 jiwa, sedangkan sebagian petani merangkap menjadi nelayan. Saat lahan pertanian tak lagi membutuhkan banyak tenaga, mereka biasanya melaut mencari ikan. Total penduduknya tidak kurang dari 156.000 ribu jiwa. ***
Posted by
Jejak Kehidupan
at
9:15 PM
0
comments
Perempuan-Perempuan Perkasa Pemecah Batu

INI kisah tentang para perempuan perkasa di aliran Sungai Buluri, Kota Palu, Sulawesi Tengah. Ya, para perempuan perkasa, sebab mereka adalah perempuan pemecah batu. Di saat beban kehidupan makin menghimpit mereka terus bergulat di bawah terik matahari Kota Palu yang menyengat, mencari sesuap nasi buat keluarganya. Sayang jeratan para calo pemesan batu menjerat mereka. Sementara tidak ada yang mampu mendengar jeritan derita mereka.
Perempuan-perempuan pemecah batu itu hidup di bawah himpitan beban ekonomi dan jeratan para calo. Bayangkan saja, mereka harus bekerja mulai pukul 05.30 pagi sampai pukul 17.30 petang setiap hari.
Harga kebutuhan pokok, utamanya beras, misalnya benar-benar membuat mereka makin menderita. Terkadang keluarganya terpaksa hanya makan talebe, penganan tradisional yang terbuat dari beras dicampur tepung jagung, yang kandungan tepung jagungnya lebih banyak.
Salah seorang di antaranya adalah Halidja. Ibu satu anak ini mengaku untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti beras, minyak tanah dan kebutuhan pokok lainnya sangat sulit. Apalagi pendapatan sehari-harinya sebagai pemecah batu tentu tak bisa menutupi kebutuhan keluarganya. Sementara harga beras saja sudah mencapai Rp 5000 per liter. Coba bandingkan dengan pendapatkan mereka yang hanya Rp 6000 –Rp 7000 per minggu. Artinya dalam sehari hanya mendapat Rp10.000. Itupun jika banyak pesanan dari pemborong bangunan. Bayangkan jika dalam seminggu tidak ada pesanan, jadilah batu-batu yang mereka kumpulkan teronggok percuma.
Simak penuturan Halidja, perempuan berusia 38 tahun ini, tentang beban ekonomi yang menghimpit kehidupannya:
“Coba lihat batu-batu itu, sudah seminggu tidak ada yang ambil. Tapi saya sabar saja sampai ada yang membelinya,” aku Halidjah.
Perempuan paruh baya itu mengaku sudah bekerja sebagai pemecah batu sejak dari tahun 1985 hingga sekarang. Keinginannya untuk merubah nasib sudah pernah ia lakukan, semisal dengan menjual ikan di pasar tradisional terbesar di Kota Palu, namun sayang ia selalu tergusur oleh penjual besar. Akhirnya ia kembali lagi sebagai pemecah batu.
Soal makan talebe juga diceritakan perempuan ini. Ia membuat talebe jika tidak mampu membeli beras.
“Kalau dijadikan talebe, kita bisa menghemat pengeluaran untuk membeli beras, karena harga tepung jagung hanya Rp 2.000 per kilogram. Kalau ada uang lebih saya juga beli jagung pipil supaya talebenya lebih enak dimakan,” tuturnya, sambil sesekali memecah batu di depannya.
Sementara suaminya, Amin, 58 tahun yang bekerja sebagai buruh bangunan pendapatannya tentu tak seberapa.
Kisah serupa juga dialami Aida, 45 tahun. Perempuan pemecah batu itu juga mengaku kesulitan membeli kebutuhan hidup sehari-harinya, utamanya beras yang harganya makin melambung.
Saat ditemui di sebuah siang yang terik ia terlihat marah-marah kepada pemesan batu yang berhari-hari tidak mau mengambil batu-batu yang sudah dipecahkanya dengan susah payah.
“Mereka ini keterlaluan, sudah berapa hari batu saya tidak diambil. Ini karena ada calo-calonya,” kata Aida.
Soal calo, ada cerita dari Halidjah. Katanya para calo ini memungut Rp 10 ribu jika mereka ingin batunya dibeli oleh pemesan. Jika tidak mau mengeluarkan uang semacam jatah preman itu, mereka bakal pulang gigit jari dengan kantong kosong.
“Kami terpaksa menerima saja, soalnya mereka kenal banyak dengan para pemesan batu, sementara kami cuma tahu memecah batu lalu menjualnya,” ungkap Halidjah.
Di tengah kondisi itulah mereka makin menderita. Hidup di antara himpitan ekonomi dan jeratan para calo pemesan batu sementara mereka tak tahu hendak mengadu ke mana. Adakah Anda bisa merasakan derita mereka?***
Posted by
Jejak Kehidupan
at
9:08 PM
0
comments